Copyright © Ummu Sumayyah's Online Market
Design by Dzignine
Monday, 2 December 2013

Pentingnya Doa Ibubapa Dalam Kehidupan Anak-Anak

Bismillah

Teks : Ummu Sumayyah

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Doa ibubapa untuk anaknya adalah salah satu doa yang paling dimakbulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama sekali doa dari seorang ibu untuk anaknya. Maka semestinya ibubapa harus sentiasa mendoakan akan kebaikan buat anak-anaknya. Ibubapa juga harus sabar jika terdapat penyimpangan pada anak-anaknya. Bukan mengutuk atau mendoakan keburukan buat mereka.

Ibubapa harus membimbing anak-anaknya kerana mereka memerlukan bimbingan dari kedua orangtuanya apabila mereka salah atau lupa. Semua itu tidak lain hanyalah untuk kebaikan dan masa depan anak-anak di dunia dan di akhirat. Kadang kala apa yang selalu terjadi, ibubapa sudah memberi bimbingan yang sepatutnya tetapi si anak tetap berdegil dan ‘keras kepala’. Entah apa lagi cara yang harus dilakukan, seakan-akan semua jalan sudah buntu.

Menjadi anak yang soleh yang selalu menyenangkan hati bukanlah semata-mata hasil kerja keras orangtua dan pendidik sahaja. Semua usaha yang ditempuh hanyalah merupakan sebab-sebab yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Adapun yang membuat hati si anak terbuka untuk menerima pengarahan serta bimbingan orangtua dan orang-orang yang mendidiknya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Firman Allah :

إِنَّكَ لاَ تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya engkau takkan bisa memberikan hidayah (taufik) kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah memberikan hidayah kepada siapa pun yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56)

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau –lebih-lebih lagi selain beliau– tidak akan mampu memberikan hidayah kepada seseorang, walaupun dia orang yang paling dicintai. Tidak seorang pun mampu memberikan taufik dan hidayah dan meletakkan iman dalam hati seseorang. Ini semata-mata ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang memberi hidayah pada siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, siapa yang layak mendapatkan hidayah dari-Nya lalu Dia berikan hidayah, dan siapa yang tidak layak mendapatkannya Dia akan biarkan orang itu dalam kesesatannya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 620)

Cubalah kita renungkan, bagaimana upayanya Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam mengembalikan umatnya pada tauhid. Selama 950 tahun beliau mengajak mereka –dengan berbagai cara– untuk meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Namun anak beliau sendiri tidak mahu menyambut seruan mulia sang ayah, sampai saat-saat akhir kehidupan umat yang durhaka itu. Air bah yang meluap menenggelamkan semua yang ada. Nabi Nuh ‘alaihissalam memanggil anaknya yang enggan turut naik ke bahtera:

وَنَادَى نُوْحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلاَ تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِيْنَ

“Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh, ‘Wahai anakku! Naiklah bahtera ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir’.” (Hud: 42)

Namun apakan daya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki, si anak ini tidak mendapatkan petunjuk. Tetap dengan kesombongannya dia menolak ajakan ayahnya, hingga berakhir dengan kebinasaan, ditelan oleh gelombang air bah yang datang:

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

“Dia berkata, ‘Aku akan berlindung ke gunung yang akan menghindarkanku dari air bah. Nuh berkata, ‘Hari ini tidak ada lagi yang bisa melindungi dari adzab Allah kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang pun menghalangi mereka berdua, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Hud: 43)

Menyaksikan anaknya turut tenggelam, timbul rasa hiba sang ayah, hingga Nabi Nuh ‘alaihissalam pun berdoa kepada Rabbnya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dan menyatakan bahwa anaknya bukanlah orang yang beriman sehingga termasuk orang-orang yang ditenggelamkan:

وَنَادَى نُوْحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ. قَالَ يَا نُوْحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجَاهِلِيْنَ

“Dan Nuh pun menyeru Rabbnya, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman, ‘Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang soleh. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil.” (Hud: 45-46)

Demikianlah keadaannya. Seorang nabi pun tidak dapat menyelamatkan anaknya dari kekafiran bila si anak tidak dibukakan hatinya untuk menerima keimanan. Di sisi lain, sangatlah mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan petunjuk pada hamba yang Dia kehendaki, walaupun hamba itu dikelilingi oleh kaum yang berbuat syirik. Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan taufik kepadanya untuk bertauhid:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيْمَ مَلَكُوْتَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِنِيْنَ. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لاَ أُحِبُّ اْلآفِلِيْنَ. فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُوْنَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّيْنَ. فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيْءٌ مِمَّا تُشْرِكُوْنَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, ‘Aku tidak suka pada yang tenggelam’. Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku’. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, ‘Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah rabbku, ini lebih besar’. Tatkala matahari itu terbenam, dia pun berkata, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya’.” (Al-An’am: 75-79)

Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memberikan hidayah dan melindungi seorang anak dari keburukan. Oleh kerana itu, ibubapa haruslah menyedari bahawa mereka tidak boleh semata-mata bersandar pada hasil usaha mereka. Tetapi ibubapa harus berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan doa seorang yang telah mencapai umur 40 tahun:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau kurniakan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk melakukan amal soleh yang Engkau redhai, dan berikanlah kebaikan kepadaku dengan kebaikan anak keturunanku.” (Al-Ahqaf: 15)

Tatkala dia berdoa untuk kebaikan dirinya, dia mendoakan pula untuk keturunannya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kebaikan pada segala keadaan mereka. Disebutkan dalam ayat ini bahwa kebaikan anak cucu akan kembali manafaatnya bagi kedua orangtua mereka, berdasarkan firman-Nya وَأَصْلِحْ لِي. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 781)

Demikian yang dimohon oleh hamba-hamba Ar-Rahman dalam doa mereka:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan-pasangan hidup dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika memohon keturunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pun meminta agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan anaknya nanti sebagai anak yang soleh, yang mendapatkan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdoa:

فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا. يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Maka anugerahkanlah bagiku dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisiku dan mewarisi keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diredhai.” (Maryam: 5-6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengabulkan permohonan Nabi Zakariyya ‘alaihissalam dengan memberikan seorang anak yang shalih:

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلاَمٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Wahai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberimu kabar gembira dengan lahirnya seorang anak yang bernama Yahya, yang belum pernah Kami menciptakan seseorang yang serupa dengannya.” (Maryam: 7)

Begitu pula Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berdoa untuk kebaikan dirinya dan putranya Isma’il ‘alaihissalam beserta keturunan mereka tatkala membangun fondasi Baitullah:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang-orang yang berserah diri kepada-Mu dan jadikanlah pula keturunan kami sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu.” (Al-Baqarah: 128)

Beliau ‘alaihissalam juga berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan solat. Wahai Rabbku, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga diri dan keturunan beliau dari kemaksiatan terbesar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu kesyirikan. Beliau ‘alaihissalam memohon:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah diriku beserta anak keturunanku dari penyembahan berhala.” (Ibrahim: 35)

Demikianlah yang dilakukan oleh para nabi. Mereka mendoakan anak cucu mereka agar meraih masa depan yang baik dan terhindar dari hal-hal yang membinasakan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nabi dan rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia, mencontohkan pula hal ini. ‘Umar bin Abi Salamah, putra Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma menuturkan:

نَزَلَتْ هَذِهِ اْلآيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا} فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ، فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ وَعَلِيٌّ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَجَلَّلَهُ بِكِسَاءٍ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيْرًا

“Turun ayat ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan dosa-dosa dari diri kalian wahai ahlul bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya’ di rumah Ummu Salamah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Fathimah, Hasan dan Husain lalu menyelubungi mereka dengan kain, dan ‘Ali di belakang beliau lalu beliau selubungi pula dengan kain. Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, mereka adalah ahlu baitku, maka hilangkanlah dosa-dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3787, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: shahih)

Beliau pernah pula mendoakan cucu beliau, Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma. Diceritakan oleh Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيٍْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَى عَاتِقِهِ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

“Aku pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menggendong Al-Hasan di atas pundak beliau. Beliau mengatakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia’.” (HR. Al-Bukhari no. 3849 dan Muslim no. 2422)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga seringkali mendoakan anak-anak para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:

أَنَّهُ كَانَ يَأْخُذُهُ وَالْحَسَنَ فَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ أَحِبَّهُمَا فَإِنِّي أُحِبُّهُمَا

“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memelukku bersama Al-Hasan lalu mendoakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka’.” (HR. Al-Bukhari no. 3735)

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan pula saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya, setelah dia mengambilkan air wudhu untuk beliau. Dengan doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ilmu yang luas kepadanya:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْخَلاَءَ فَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوْءًا قَالَ: مَنْ وَضَعَ هَذَا؟ فَأُخْبِرَ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Pernah suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat buang air. Lalu kuletakkan air wudhu untuk beliau. (Ketika selesai) beliau pun bertanya, “Siapa yang meletakkan ini?” Lalu beliau diberitahu (bahwa aku yang melakukannya). Kemudian beliau mendoakan, ‘Ya Allah, berikanlah dia pemahaman terhadap agama’.” (HR. Al-Bukhari no. 143 dan Muslim no. 2477)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjadi salah seorang ulama di kalangan sahabat. Sampai-sampai ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menempatkannya bersama para tokoh sahabat ketika Ibnu ‘Abbas masih belia. (Fathul Bari, 7/127)

Dalam kehidupan sahabat, ada Ummu Sulaim bintu Milhan radhiyallahu ‘anha, ibu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang begitu besar keinginannya agar anaknya mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Dia serahkan anaknya untuk melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk anaknya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلاَّ أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي، فَقَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُوْلَ اللهِ، خُوَيْدِمُكَ، ادْعُ اللهَ لَهُ. قَالَ: فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ، وَكَانَ فِي آخِرِ مَا دَعَا لِي بِهِ أَنْ قَالَ: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْهِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke rumah kami dan di situ hanya ada aku, ibuku dan Ummu Haram bibiku. Ibuku mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ini pelayan kecilmu. Doakanlah dia’. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan untukku segala kebaikan, dan di akhir doa beliau untukku, beliau berkata, ‘Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya, serta berikanlah barakah kepadanya’.” (HR. Muslim no. 2481)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa beliau, hingga Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang dirinya, “Hartaku sungguh banyak, sementara anak cucuku mencapai sekitar seratus orang sekarang.” (HR. Muslim no. 2481)

Apabila orangtua merasakan beban kesempitan dan kesusahan karena sikap anak-anak, hendaknya berlapang dada dan memaafkan, serta mendoakan agar si anak mendapatkan kebaikan. Sesungguhnya doa orangtua termasuk doa yang akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentang hal ini, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa ibubapa, doa orang yang bermusafir, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mendoakan keburukan terhadap anak-anak. Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيْبَ لَكُمْ

“Jangan mendoakan keburukan bagi diri kalian, jangan berdoa keburukan bagi anak-anak kalian, dan jangan pula berdoa keburukan bagi harta kalian. Jangan sampai ia bertepatan dengan saat Allah yang jika diminta suatu permintaan saat itu pasti akan Dia kabulkan.” (HR. Muslim no. 3009)

Pernah terjadi seseorang menepati saat dikabulkannya doa, hingga dikabulkan permohonannya. Ini banyak terjadi ketika marah. Saat marah, terkadang orang mendoakan keburukan untuk dirinya, atau kadang kala pada anaknya. Dia katakan, ‘Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakanmu!’ atau ‘Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan balasan yang buruk kepadamu!’, ataupun yang semisal itu. Sampai-sampai ada yang mendoakan anaknya agar mendapat laknat! Nas`alullahal ‘afiyah. (Syarh Riyadhish Shalihin, 4/33)

Akibatnya, bukan semakin baik si anak, namun semakin rosak. Semakin jauh dari kebenaran dan semakin gelap pula masa depannya. Tak ada kebahagiaan hidupnya di dunia, terancam pula kehidupannya di akhirat kelak. Na’udzu billahi min dzalik!

Oleh itu cukup sudah bagi kita, para ibubapa di mana terdapat banyak contoh tauladan yang termaktub dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Maka sudah semestinya kita sebagai ibubapa menyedari bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala-­lah yang memberikan kebaikan buat anak-anak kita. Maka menjadi tanggungjawab kita sebagai ibubapa harus sentiasa mendoakan kebaikan buat mereka.

Wallahua’lam

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun. - See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf
sumber: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf

Tiga Kunci Sukses Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم
Berkata Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam rahimahullah -salah seorang ulama besar di Saudi Arabia- di dalam kitabnya yang masyhur Taudhihul Ahkam Syarhu Bulughil Maram (1/201):

Sepatutnya bagi seseorang yang berwudhuk dan bagi setiap orang yang melakukan suatu ibadah ketika hendak melakukannya untuk memperhatikan tiga hal berikut:

1. Ketaatan kepada Allah. Dia melakukan ibadah tersebut adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah agar timbul di dalam hatinya rasa pengagungan terhadap ibadah tersebut.

2. Pendekatan diri kepada Allah. Dia melakukan ibadah itu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar dia bisa mencapai derajat muraqabah (merasa diri diawasi oleh Allah) sehingga ibadahnya menjadi baik.

3. Meneladani Nabi صلى الله عليه وسلم . Dia melakukan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan dan tuntutan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad صلى لله عليه وسلم agar terwujud hakikat meneladani beliau صلى الله عليه وسلم .

والحمد لله رب العالمين
Perhatian: Perkataan beliau di atas telah mengalami perubahan redaksi seperlunya tanpa mengubah makna aslinya sedikitpun.
- See more at: http://mzakihidayat.blogspot.com/2012/09/tiga-kunci-sukses-ibadah.html#sthash.iYWwYMMP.dpuf
Friday, 29 November 2013

Meraih Kemuliaan Hakiki Dengan Ilmu Yang Benar

Bismillah

Teks : Ummu Sumayyah


Walaupun banyak di antara kita yang menyedari bahawa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan kita semua akan kembali ke kampung akhirat. Akan tetapi masih ada saja yang hatinya tertawan dengan dunia dan perhiasannya. Dunia, memang masih menjadi tujuan atau orientasi utama kebanyakan orang. Tidak hairanlah kemewahan, kekayaan. harta yang berlimpah ruah, pangkat, populariti, dan berbagai bentuk kesenangan lainnya menjadi buruan kebanyakan manusia siang dan malam. Padahal, kenyataannya dunia adalah fatamorgana, kesenangan yang dirasakan akan meninggalkan kehampaan, kepedihan, dan keletihan. Hanya ilmu agama yang akan menjamin kehidupan sebenar manusia di akhirat nanti.

Siapa yang tidak mengharapkan anaknya menjadi seorang yang punya kedudukan? Hampir tidak ada ibubapa yang tidak memiliki harapan serta bayangan cita-cita setinggi langit untuk anak-anak mereka. Biasanya, sejak si anak masih di dalam buaian lagi, mereka telah menyimpan berbagai keinginan dan harapan.  “Semoga anakku menjadi ‘orang’, semoga memiliki masa depan yang lebih baik dari pada ibu bapanya, semoga jadi orang yang paling ini, paling itu ….” dan sejuta angan-angan ‘semoga’ buat anaknya.

Tidak berhenti setakat itu sahaja, malah segala yang dapat mendukung tercapainya cita-cita itu pun turut disediakan sejak dari mula lagi. Mulai dari tabungan pendidikan seperti insuran, tabung amanah serta lain-lain perancangan telah disediakan. Berbagai pendidikan prasekolah juga di beri kepada anak-anak agar melancarkan lagi jalan si anak memperoleh cita-citanya atau justru cita-cita kedua orangtuanya.

Namun di sebalik segala cita-cita itu, ada sebuah kemuliaan yang seringkali dilupakan, bahkan diremehkan oleh banyak ibubapa. Padahal inilah kemuliaan hakiki yang akan didapati oleh si anak jika dia benar-benar meraihnya. Kemuliaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوا العِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa darjat.”(Al-Mujadilah: 21)

Demikianlah, dalam kalam-Nya ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa Dia akan mengangkat darjat orang yang beriman lagi berilmu di atas orang yang beriman namun tidak berilmu. Ketinggian darjat akan diperolehnya di dunia berupa kedudukan yang tinggi serta reputasi yang baik, juga akan dicapai pula di akhirat berupa kedudukan yang tinggi di dalam syurga. (Fathul Bari 1/186)

Mengapa tidak cukup dengan kedudukan dan kekayaan sebagai bekalan? Bukankah dengan itu anak akan mendapatkan segalanya? Nampaknya benar bila kita tidak mengkaji sedalam-dalamnya. Namun sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِي مَالِهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ وَهُمَا فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيْهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيْهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Dunia itu diberikan kepada empat golongan:

(1) Seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu, maka dia pun bertakwa kepada Rabbnya dan menggunakan hartanya untuk menyambung tali silaturrahim dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya itu, maka dia berada pada darjat yang paling mulia di sisi Allah.

(2) Dan seorang hamba yang Allah kurniakan dengan ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya. Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu pahala mereka berdua sama.

(3) Juga seorang hamba yang Allah beri harta namun tidak dikurniakan ilmu, sehingga dia gunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya, dan tidak menggunakan hartanya untuk menyambung tali silaturrahim, dan tidak pula mengetahui ada hak Allah dalam hartanya, maka dia berada pada darjat yang paling hina di sisi Allah.

(4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta mahupun ilmu, lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2325, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

Dengan begitu, jelaslah bahwa sekadar bekalan harta sahaja tidak mencukupi bagi seseorang. Perlu sesuatu yang lebih penting daripada itu, yang justeru nanti akan menyelamatkannya dari kerusakan dalam menguruskan harta yang dimilikinya. Itulah ilmu. Tentunya berbeza orang yang mengetahui syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan orang yang tidak mengetahuinya, bagaikan perbezaan siang dan malam, sebagaimana Allah berfirman :

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?” (Az Zumar: 9)

Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah menasehatkan tentang keutamaan ilmu dibandingkan dengan harta:

العِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، العِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ، العِلْمُ يَزْكُو عَلَى العَمَلِ وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ، وَمَحَبَّةُ العَالِمِ دِيْنٌ يُدَانُ بِهِ، العِلْمُ يُكْسِبُ العَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيْلَ اْلأُحْدُوْثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيْعَةُ الْمَالِ تَزُوْلُ بِزَوَالِهِ، مَاتَ خُزَّانُ اْلأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءُ وَالْعُلَمَاءُ بَاقُوْنَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُوْدَةٌ وَأَمْثَالُهُمْ فِي القُلُوْبِ مَوْجُوْدَةٌ

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, kerana ilmu akan menjagamu sementara harta harus kita yang menjaganya. Ilmu akan terus bertambah dan berkembang dengan diamalkan sementara harta akan berkurang dengan penggunaan. Dan mencintai seorang yang berilmu adalah agama yang dipegangi. Ilmu akan membawa pemiliknya untuk berbuat taat selama hidupnya dan akan meninggalkan nama yang harum setelah matinya. Sementara orang yang memiliki harta akan hilang seiring dengan hilangnya harta. Pengumpul harta itu seakan telah mati padahal sebenarnya dia masih hidup. Sementara orang yang berilmu akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad-jasad mereka telah tiada, namun mereka tetap ada di hati manusia.” (dinukil dari Min Washaya As-Salaf, hal. 13-14)

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah pula mengatakan:

بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Satu bab ilmu agama yang dipelajari oleh seseorang lebih baik baginya daripada dunia seisinya.” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 18)

Ayat-ayat di dalam Al-Qur`an, maupun Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak yang menyebutkan tentang kemuliaan orang yang berilmu. Ayat dalam surah Al-Mujadilah di atas adalah salah satunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu padaku.” (Thaha: 114)

Ash-Shadiqul Mashduq (yang jujur dan dibenarkan kabar yang dibawanya), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa orang berilmu akan mendapatkan kebaikan hakiki dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini disampaikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma ketika berkhutbah:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Allah akan faqihkan dia dalam agama’.” (HR. Al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan keutamaan ilmu dan memahami agama serta berisi anjuran untuk mendapatkannya. Kerana semua ini akan menuntun seseorang untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Syarh Shahih Muslim, 7/127)

Dari sini bisa difahami bahwa orang yang tidak memahami agama –dalam erti mempelajari kaedah-kaedah Islam dan segala yang berkaitan dengannya– bererti Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan dari kebaikan. (Fathul Bari, 1/217)

Inilah yang dicita-citakan oleh para pendahulu kita yang soleh. Mereka tidak bercita-cita agar anak mereka kelak menjadi hartawan atau penguasa, karena mereka sangat memahami, kemuliaan dan kebaikan mana yang hakiki. Oleh karena itu, mereka senantiasa berupaya agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang berhias dengan adab yang tinggi dan berbekal dengan ilmu. Mereka merasakan kebanggaan bila si anak memiliki pemahaman terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini lebih dari kebanggaan apa pun, dan merasakan penyesalan bila si anak terlepas dari keutamaan seperti ini

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyertakan putranya, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk duduk di majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang-orang dewasa dari kalangan para sahabat. Ibnu ‘Umar adalah peserta termuda didalam majlis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. ‘Umar pun merasa bangga bila sang putra memiliki ilmu lebih daripada yang dimiliki orang lain yang ada di situ. Peristiwa ini dikisahkan sendiri oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَخْبِرْنِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لاَ يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلاَ وَلاَ وَلاَ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لاَ يَتَكَلَّمَانِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ. فَلَمَّا لَمْ يَقُوْلُوْا شَيْئًا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ النَّخْلَةُ. فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ: يَا أَبَتَاهُ، وَاللهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ. فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ؟ قَالَ: لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُوْنَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُوْلَ شَيْئًا. قَالَ عُمَرُ: لأَنْ تَكُوْنَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا

“Kami dulu pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya pada kami, ‘Beritahukan padaku tentang sebuah pohon yang menyerupai atau seperti seorang muslim, tak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang waktu.’ Ibnu ‘Umar berkata, ‘Waktu itu terlintas dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma. Namun aku melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan pula untuk menjawabnya. Ketika para shahabat tidak menjawab sedikit pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Itu pohon kurma.’ Saat kami telah selesai, kukatakan pada ayahku ‘Umar, ‘Wahai ayah, demi Allah, sesungguhnya tadi terlintas dalam benakku, itu adalah pohon kurma.’ Ayahku pun bertanya, ‘Lalu apa yang membuatmu tidak menjawab?’ Ibnu ‘Umar menjawab, ‘Aku melihat anda semua tidak berbicara sehingga aku merasa segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu.’ Kata ‘Umar, ‘Sungguh kalau tadi engkau menjawab, itu lebih aku sukai daripada aku memiliki ini dan itu!’.” (HR Al-Bukhari no. 4698)

Para pendahulu kita amat bersemangat agar anak-anak mereka memiliki pendidikan sejak dari kecil lagi dan benar-benar berpesan kepada si anak agar bersemangat dalam menuntut ilmu. Mereka betul-betul memberi perhatian kepada anak-anak dengan memberikan prasarana yang akan digunakan anak mereka dalam menuntut ilmu. Seperti ‘Utbah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berpesan kepada pendidik putranya: “Ajarilah dia Kitabullah, puaskan dia dengan hadits dan jauhkan dia dari syi’ir (syair yang menyesatkan).” (dinukil dari Waratsatul Anbiya`, hal. 30)

Banyak gambaran dalam kehidupan salafush soleh yang menukilkan semangat mereka terhadap pendidikan anak yang dilandasi dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka ajarkan pada si anak tentang beratnya perjalanan menuntut ilmu dengan segala rintangan. Bahkan mereka sanggup kehilangan harta demi perjalanan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu agar kelak dapat memberikan menafaat kepada diri si anak sendiri khususnya dan kepada Islam dan kaum muslimin amnya.

Bila ilmu dimiliki oleh seseorang, maka kehormatan dan kemuliaan akan datang tanpa diundang dan dicari-cari. Tanpa mengira keturunan dan rupa paras. Memang, bila akhirat menjadi tujuan seseorang, maka dunia pun akan Allah Subhanahu wa Ta’ala datangkan kepadanya. Sebaliknya, bila dunia yang menjadi cita-citanya, maka kehinaan semata yang akan dia diperolehinya. Demikian dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتِ اْلآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, Allah akan jadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah kumpulkan baginya urusannya yang bercerai-berai, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tidak suka kepadanya. Dan barangsiapa yang dunia menjadi cita-citanya, Allah akan jadikan kefakiran di depan matanya, Dia cerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali hanya apa yang telah ditentukan baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2465, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

Ibnul Jauzi rahimahullahu pernah menasihati putranya dan menganjurkannya untuk menyibukkan diri dengan ilmu. Beliau berkata, “Ketahuilah, ilmu itu akan mengangkat orang yang hina. Banyak dikalangan ulama yang tidak memiliki nasab yang boleh dibanggakan dan tidak punya wajah yang rupawan.”

Oleh karena itu, ibubapa hendaklah selalu berusaha membimbing anak-anaknya untuk mengikuti halaqah-halaqah ilmu, menekankannya, dan memberi semangat kepada mereka agar bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan untuk menuntut ilmu yang benar, tanpa rasa bosan dan letih. Karena jalan ini akan memberikan mereka ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berpehujungnya syurga Allah yang kekal abadi. Benarlah janji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya dengan ilmu tersebut, jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

Wallahu’alam.

Sumber : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Wednesday, 27 November 2013

Tiga Golongan Manusia Di Hari Kiamat Nanti

Bismillah

Teks : Ummu Sumayyah

Pada hari kiamat nanti, manusia akan terbahagi kepada tiga golongan. Ini diambil dari firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Waqi’ah, sebagai berikut :

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (١)لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (٢)خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (٣)إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا (٤)وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (٥)فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (٦)وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً (٧)فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (٨)وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (٩)وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠)أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١)فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (١٢)ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣)وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤)

Apabila terjadi hari kiamat. Tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya. Maka jadilah ia debu yang beterbangan. Dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS Al-Waqi’ah : 1-14)

Dalam ayat-ayat tersebut di jelaskan, bahwa pada hari kiamat nanti manusia akan terbagi menjadi tiga golongan, iaitu :

(1)   Golongan Kanan, iaitu golongan orang-orang yang akan diberikan catatan amal mereka dari tangan kanan mereka, dan mereka itulah ahli surga.

(2)   Golongan Kiri, iaitu golongan orang-orang yang akan diberikan catatan amal mereka dari tangan kiri mereka, dan mereka itulah calon penduduk neraka.

(3)   Golongan yang paling terdahulu (terdepan), yang selalu berlumba-lumba dalam melakukan ketaatan dan ibadah kepada Alloh.

Para ulama menjelaskan ciri-ciri mereka itu semua seperti berikut :

(1)   Golongan As-Sabiquunas Sabiquun (yang berlumba-lumba dan terdepan), yakni orang-orang yang melakukan amal-amal yang diwajibkan atas mereka, dan bersemangat dalam melakukan amal-amal yang disunnahkan kepada mereka, juga berusaha menjauhkan diri mereka dari perkara yang haram dan yang makruh, dan berhati-hati dari perkara yang mutasyabihat dalam perkara yang dimubahkan atas mereka, kerana takut terjatuh dalam perkara yang haram.

(2)   Golongan Ashabul Yamin (Golongan Kanan), yakni orang-orang yang melakukan amal-amal yang diwajibkan atas mereka dan menjauhi yang haram, tetapi mereka kurang semangat dalam melakukan perkara-perkara yang sunnah, dan terkadang mereka terjatuh pada perkara makruh, dan bersenang-senang dalam perkara yang mubah (sesuatu yang bila dikerjakan atau ditinggalkan tidak mendapat pahala dan tidak berdosa. Dengan kata lain, amal (perbuatan)yang boleh).

(3)   Golongan Ashabus Syimal (Golongan Kiri), iaitu orang-orang yang melakukan sebagian perkara yang haram, dan meninggalkan sebahagian perkara yang diwajibkan, kemudian tidak memiliki himmah (kepedulian dan semangat) yang tinggi dalam melakukan amal-amal yang disunnahkan. Golongan yang seperti ini  terbagi lagi dua golongan, yaitu orang mukmin yang fasiq (ahli maksiat), kemudian golongan orang-orang kafir.

Wahai saudaraku kaum muslimin sekelian, marilah kita muhasabah dan melihat kepada diri kita masing-masing, kita ini termasuk di dalam golongan yang mana satu. Apabila kita menginginkan kebaikan diri kita di akhirat nanti, marilah kita berusaha dan berlumba-lumba untuk menjadi  golongan yang utama.

Wallahu a’lam.

sumber : Al Ustadz Muhammad Asnur, Khutbah 
Monday, 25 November 2013

Ajari Anak-Anak Tentang Pentingnya Solat

Bismillah

Teks : Ummu Sumayyah

Solat adalah tiang agama. Solat akan mempengaruhi kehidupan akhirat seseorang muslim. Namun pada masa kini kita dapati ramai orang-orang islam yang menganggap solat ini tidak penting dan mereka sering melewat-lewatkan solat kerana sibuk dengan urusan duniawi dan ada juga yang tidak mengerjakan langsung amalan ini. Maka sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai ibu bapa harus memberi penekanan tentang kewajipan solat kepada anak-anak sejak dari kecil lagi.


Sudah menjadi kebiasaan kepada masyarakat kita, ketika Azan berkumandang di masjid, anak-anak masih tetap tidak berganjak dari depan TV, masih leka bermain, atau masih diulit mimpi di tempat tidur malas untuk bangun di awal pagi untuk mengerjakan solat subuh.  Kadang-kadang hanya mengerjakan solat ketika waktu solat sudah hampir tamat. Bahkan kebanyakan ibu bapa tidak mengambil berat akan keadaan sebegini. Tetapi berbeza sekali keadaannya ketika melibatkan urusan-urusan keduniaan contoh ketika mengejutkan anak-anaknya bangun pagi untuk ke sekolah atau memanggil mereka pulang dari bermain agar tidak terlambat ke sekolah

Wahai ibu bapa sekelian…! Lupakah kita dengan peringatan dari Rabb semesta alam:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَاْلآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Akan tetapi kalian mengutamakan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)

Seorang mukmin yang berakal tentu tidak akan memilih sesuatu yang buruk dengan meninggalkan yang lebih baik atau membeli kesenangan sementara dengan ketenangan yang abadi, karana kecintaan terhadap dunia merupakan pangkal setiap kesalahan. (Taisirul Karimir Rahman hal. 921)


Ibu bapa mana yang tidak menginginkan kebaikan buat anak-anaknya? Malah setiap ibu bapa mengimpikan agar anak mereka menjadi anak yang soleh dan solehah. Untuk mencapai matlamat tersebut maka adalah menjadi tanggungjawab ibu bapa untuk memberi pendidikan kepada anak-anak tentang kewajipan solat.

Inilah yang dilakukan oleh Luqman Al-Hakim, ketika menyampaikan wasiat kepada anaknya:

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ
 
“Wahai anakku, dirikanlah solat…” (Luqman: 17)

Yang dimaksud adalah menunaikan solat dengan seluruh batasan, kewajiban, dan waktu-waktunya (Tafsir Ibnu Katsir, 6/194).


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu untuk menunaikan solat dan bersabarlah atasnya.” (Thaha: 132)
 

Keluarga diistilahkan kepada individu yang ada di dalam sebuah rumah tangga, baik isteri, anak-anak putra dan putri, ibu saudara atau pun ibu. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/119)

Kita dianjurkan untuk menunaikan solat, baik solat fardhu mahupun solat sunat. Sementara memerintahkan pada sesuatu berarti memerintahkan pada seluruh perkara yang dapat menyempurnakan sesuatu itu. Demikian juga perintah untuk melakukan solat.  Ini bererti kita juga harus mempelajari semua perkara yang berkaitan dengan solat.


Juga bersabar dalam menunaikan solat dengan seluruh batasan, rukun, adab, dan khusyu’ dalam solat, karena hal ini terasa berat bagi jiwa. Akan tetapi, jiwa harus dipaksa dan diperangi untuk menjalankannya, diiringi pula dengan kesabaran, kerana bila seorang hamba menunaikan solat sesuai dengan apa yang diperintahkan, maka dia akan lebih menjaga dan melakukan perkara agama yang lainnya. Sebaliknya, bila seorang hamba meremeh-remehkan solatnya, maka dia akan lebih meremeh-remehkan perkara agama yang lainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 517)

Begitu pula yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhu:


مُرُوا أُوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk solat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)

Inilah di antara hak anak yang harus ditunaikan oleh kedua ibubapa, dengan memerintahkan mereka solat ketika telah mencapai usia tujuh tahun, dan memukul mereka ketika sepuluh tahun sekiranya mereka meremehkan atau meninggalkan solat, dengan syarat anak itu berakal. Ini bererti, apabila anak telah mencapai tujuh atau sepuluh tahun namun mereka tidak berakal (gila), maka mereka tidak diperintah dengan sesuatu pun, tidak pula dipukul bila meninggalkan hal itu. Akan tetapi, ibu bapa harus mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka, baik di dalam maupun di luar rumah.

Yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah pukulan yang bersifat mendidik, iaitu pukulan yang tidak membahayakan. Seorang bapa tidak boleh memukul anaknya dengan pukulan yang melampau yang boleh mencederakan anak itu dan juga tidak boleh memukul dengan pukulan  yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun apabila keadaan memaksa misalnya anak tidak mahu menunaikan solat kecuali dengan pukulan, maka seorang bapa berhak memukulnya dengan pukulan untuk memberi pengajaran kepada anak itu dengan tidak mencederakannya. 


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kedua ibu bapa untuk memukul bukan untuk menyakiti si anak, melainkan untuk mendidik dan membetulkan mereka. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/123-124)

Tidak hairanlah apabila didapati perintah untuk mengajarkan solat kepada anak-anak dan  mengingatkan kepada mereka tentang kepentingan solat bagi seorang hamba. Di antara sekian banyak keutamaan yang dipetik adalah penjagaan dirinya dari kekejian dan kemungkaran.


إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ
 
“Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)

Al-Fahsyaa’ dalam ayat di atas meliputi semua kemaksiatan yang diingkari dan dianggap jijik serta disukai oleh hawa nafsu. Sementara Al-Mungkar pula mencakupi seluruh perbuatan maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah.


Seorang hamba yang sentiasa menunaikan solat dengan menyempurnakan setiap rukun-rukun serta syarat-syarat solat dan khusyu’ apabila mengerjakan solat, maka ia akan beroleh cahaya di kalbunya, bersih hatinya, bertambah imannya, bertakwa dan cinta terhadap kebaikan. Bahkan hilang keinginannya untuk melakukan perkara-perkara keburukan dan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara tujuan solat.


Sementara itu, di dalam ibadah solat terdapat maksud yang lebih agung dan lebih besar, iaitu zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati, lisan dan anggota badan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya, dan ibadah paling utama yang dilakukan oleh para hamba adalah solat, di dalamnya terkandung ibadah seluruh anggota badan yang tidak terdapat pada ibadah selainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 632)


Keutamaan lain yang diperoleh seorang hamba dengan solatnya digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak perkataan beliau. Di antaranya yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:


سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ 
قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؛ قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الخَطَايَا
 
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Bagaimana menurut kalian, bila ada sebuah sungai besar di depan pintu salah seorang dari kalian yang dia mandi di dalamnya lima kali dalam sehari, apakah ada dakinya yang tertinggal?’ Para shahabat menjawab: ‘Tidak akan tertinggal dakinya sedikit pun.’ Beliau pun berkata: ‘Demikian permisalan solat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan’.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim no. 668)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الكَبَائِرُ
 
“Solat lima waktu, solat Jumaat ke solat Jumaat berikutnya, merupakan penggugur bagi dosa yang ada di antaranya selama tidak dilakukan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu menyampaikan pula:


سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتٌوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيْرَةٌ، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
 
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang didatangi waktu solat fardhu, lalu dia memperbaguskan wudhunya, khusyunya dan ruku’nya, kecuali solatnya akan menjadi penggugur bagi dosa-dosanya yang lalu selama tidak melakukan dosa-dosa besar dan ini terus berlangsung sepanjang masa.” (HR. Muslim no. 228)

Mengajarkan solat pada anak-anak dapat dilakukan dengan berwudhu dan menunaikan solat di hadapan mereka, mengajak mereka ke masjid, mendorong mereka dengan adanya kitab yang berisi tata cara solat seperti 'Sifat Solat Nabi' agar seluruh keluarga dapat pula mempelajari hukum-hukum solat. Selain itu, diajarkan pula Al-Qur’an, dimulai dengan Surat Al-Fatihah serta surat-surat pendek lainnya, kemudian diajarkan untuk menghafal bacaan tahiyyat.


Pastikan anak-anak diajari juga hukum-hukum, syarat-syarat, kewajipan-kewajipan solat, serta hal-hal yang membatalkan solat, sunnah-sunnah, adab-adab dan zikir-zikir dalam solat. Di samping itu, anak laki-laki harus diberi dorongan untuk menunaikan solat Jumaat dan solat jamaah di masjid di belakang barisan saf laki-laki. Apabila anak-anak melakukan kesalahan, maka nasihatilah mereka dengan hikmah dan disertai dengan  lemah lembut,  tidak membentak ataupun mengherdik mereka agar mereka tidak meninggalkan solat sehingga boleh  membuahkan dosa bagi orang tuanya. (Kaifa Nurabbi Auladana hal. 25)


Sementara anak-anak perempuan pula harus diajari tentang keutamaan solat mereka di dalam rumah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para wanita:


صَلاَةُ المَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلاَتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي بَيْتِهَا
 
“Solat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada solatnya di tengah rumahnya dan solatnya di bilik (peribadinya) lebih utama daripada (ruangan lain) di rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/150: “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam Muslim.”)

Hal yang tak boleh hilang dari pengajaran solat adalah masalah khusyu’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ


“Beruntunglah orang-orang yang beriman, yang khusyu’ di dalam solat mereka.” (Al-Mukminun: 1-2)
 

Khusyu’nya seorang hamba dalam solat, adalah hadirnya hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasakan dekat dengan-Nya, hingga tenang hati, jiwa dan gerakannya, hampir-hampir tidak berpaling dari-Nya, dengan sepenuh adab di hadapan Rabbnya, menghadirkan segala yang diucapkan dan dilakukan di dalam solat, dari awal hingga akhir solatnya, hingga hilanglah segala bisikan dan fikiran yang hina. Inilah roh solat, inilah yang diinginkan dalam solat seorang hamba, dan inilah yang diwajibkan atas seorang hamba. Oleh karena itu, solat tanpa khusyu’ dan tanpa disertai hadirnya hati, walaupun mencukupi untuk menggugurkan kewajipan dan mendapatkan pahala, namun sesungguhnya pahala itu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 547-548)

Dengan demikian, maka sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai ibu bapa haruslah menekankan kepada anak-anak tentang pentingnya solat demi untuk melihat mereka ke gerbang kebahagiaan dunia dan akhirat. Siapa kiranya di antara kita yang tidak tergiur dengan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak pernah diselisihi-Nya:


وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ. أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُوْنَ
 
“Dan orang-orang yang menjaga solatnya, mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Ma’arij: 34-35)

 
Wallahu a’lam.

sumber : Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran